Minggu, 25 Desember 2011

SIMPHONI PENCIPTAAN

Tiada terasa hidup ini semakin berlalu saja. Waktu tak pernah dan tak akan mampu untuk berhenti sejenak. Seperti perjalanan sebuah pedati yang penuh batu-batu dan kerikil tajam sepanjang jalan namun sesekali pedati itupun melalui rerumputan hijau yang dikelilingi oleh tanaman bunga. Begitulah perjalanan hidup kita, bagaikan pedati yang menuju pada tujuan hidup mungkin saja hingga saat ini kita tidak pernah tahu kemana tujuan hidup kita.
Dahulu, saat kita masih menginjak usia anak-anak, kita selalu dimanja oleh belaian kasih sayang dari orang tua kita. Mereka begitu sabar merawat dan menjaga kita, namun apa balasan kita pada mereka? Terkadang kita dengan sombongnya menapakkan kaki kita di depan kedua orang tua kita. Bahkan jangan-jangan kita telah lupa, siapa yang telah menciptakan kita. Memang, sifat lupa merupakan manusiawi, akan tetapi manusia mempunyai akal dan pikiran yang dapat membedakannya dengan makhluk lain.
Perjalanan hidup tidak akan pernah ada yang bisa meramalkan dengan pasti. Seperti saat ini, saya mampu membanggakan orang tua dengan berhasil menempuh pendidikan di kampus yang cukup baik. Ya, paling tidak sebagai anak pertama, saya cukup bisa menjadi contoh yang dapat dijadikan tauladan bagi adik-adik saya.
Cerita hidup ini belum berakhir. Entah sampai kapan, tidak akan ada yang tahu. Tentunya akan masih ada berlembar-lembar naskah skenario hidup yang telah siap untuk kita jalani dalam kehidupan kita sekarang hingga akhir riwayat kita kemudian, terkecuali hanya bagi insan yang beruntung, maka ia telah menyiapkan berbagai rencana yang tersusun apik guna mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik, tidak hanya pasrah atas apa yang orang-orang namakan selama ini, Takdir. Cukuplah berdoa dan sedikit mendekatkan diri kepada Ia yang telah dengan sengaja menunjuk kita, untuk mengabdi dan menghamba kepada- Nya
Saya mungkin termasuk orang-orang yang diberikan sedikit keberuntungan dalam hidup ini, mungkin bukan karena saya ahli dalam Ibadah dan sepenuhnya hidup ini terserah untuk-Nya, namun hanya saja saya sangat yakin akan kuasa-Nya dan memohon dengan kesungguhan,kerendahan hati serta sabar. Karena apa yang kita dapatkan saat ini,mungkin saja bukanlah apa yang kita harapkan… namun apa yang kita dapatkan adalah apa yang terbaik bagi kita saat ini.
Banyak sekali hal-hal yang terjadi dalam hidupku sedikitpun tidak terlintas dalam benak ini. Saya sangat bersyukur akan semua hal yang datang padaku. Baik masa lalu, sekarang ini, dan bahkan atas apa yang akan saya terima saat nanti. Mungkin saja dalam hitungan detik, saya sudah terbujur kaku dan nafaspun berhenti berhembus, sehingga mereka semua menangis karena kepergianku. Atau mungkin mereka merasa lega atas hilangnya seseorang yang telah menjadi momok bagi mereka, menjadi musuh dan pengganjal batin yang berada di dekatku..
Memang cukup ironis berada dalam posisi ini. Mencoba untuk bertahan, namun apalah daya, akal dan pikiran tak jua mempunyai semangat untuk lagi berjalan